Kamis, 30 November 2017

KILLING FIELDS, LADANG PEMBANTAIAN WARGA KAMBOJA

Oleh : TRAVENGLER

Sebelum tahun 1975, Choeung Ek Genocidal Centre atau yang lebih dikenal dengan dana Killing Fields adalah kuburan biasa keturunan Tiong Hoa, namun saat Pol Pot, pemimpin rezim Khmer Merah berkuasa mulai dari 1975-1979, tempat ini berubah menjadi tempat pembantaian. Pol Pot membunuh semua orang yang bertentangan dengannya yang diduga memiliki hubungan dengan pemerintah dalam atau luar negritermasuk didalamnya kaum professional dan akademis seperti guru, dosen, pengacara, dokter dan lain-lain. Saat satu anggota keluarga dibantai, maka artinya seluruh anggota keluarga lainnya juga akan diburu dan dibantai sampai tak tersisa, ini dilakukan agar tidak ada yang akan balas dendam di masa yang akan datang.

Saat itu satu butir peluru terlalu mahal dibandingkan dengan nyawa satu manusia, sehingga eksekusi dilakukan dengan cara yang paling murah, yaitu menggunakan parang, tombak runcing, cangkul dan peralatan besi lainnya. Disini juga dibangun stupa yang dikelilingi oleh kaca. Di balik kaca adalah ribuan tengkorak dan tulang-belulang korban yang telah dikelompokkan berdasarkan umur dan jenis kelamin. Kita bisa melihat dengan jelas bukti kekejaman yang mereka terima, jika tengkorak kepalanya pecah dan memiliki lobang kecil, bisa dipastikan korban meninggal karena ditombak kepalanya, jika tengkorak kepalanya pecah dan memiliki lobang memanjang, bisa dipastikan korban meninggal karena di parang, dan jika tengkorak kepalanya pecah dan memilik lobang yang cukup besar, bisa dipastikan korban meninggal karena dicangkul kepalanya.

Selain tengkorak dan tulang belulang para korban, kita juga bisa melihat bukti lain seperti parang, cangkul, tombak yang pernah digunakan untuk mengeksekusi, selain itu juga disimpan baju-baju korban berlumuran darah yang telah mongering. Diperkirakan ada sekitar 20.000 Masyarakat kamboja menemui ajalnya disini. Killing Fields terletak sekitar 15Km dari pusat Phnom Penh, untuk masuk ke lokasi ini pengunjung dikenakan tiket sebesar USD6 atau sekitar Rp 80.000, setiap pengunjung juga akan dipinjamkan audio player yang akan menceritakan sejarah kelam tempat ini dalam bahasa inggris. Siap-siap merinding saat berada di tempat ini 

Posting Komentar

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search